ICE BSD City, Tangerang Selatan — Di penghujung Rakernas XVII Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) tahun 2024, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian tak sekadar menutup acara. Ia melemparkan seruan yang menggema jauh melampaui dinding ruang konvensi—menyentuh relung nurani para kepala daerah, mengguncang kesadaran kolektif tentang makna sejati kepemimpinan.

Dengan suara tegas namun sarat keprihatinan, Mendagri mengingatkan bahwa jabatan bukanlah sekadar kursi kekuasaan, melainkan amanah untuk menggerakkan perubahan. Ia menyoroti fenomena kepala daerah yang terjebak dalam rutinitas administratif, sibuk mengelola anggaran, namun abai terhadap denyut nadi rakyat yang sesungguhnya.

“Jangan hanya jadi administrator. Jadilah pemimpin yang membakar semangat rakyatnya,” tegas Tito, disambut riuh tepuk tangan yang lebih terasa sebagai refleksi daripada selebrasi.

Seruan itu bukan basa-basi. Di tengah tantangan global, krisis pangan, perubahan iklim, dan transformasi digital, Mendagri menekankan pentingnya kepemimpinan yang adaptif, progresif, dan berani mengambil risiko. Ia mengajak para bupati untuk keluar dari zona nyaman, menciptakan inovasi, dan membangun kolaborasi lintas sektor demi kesejahteraan masyarakat.

Rakernas yang berlangsung selama dua hari itu memang sarat agenda strategis. Namun, pidato penutup Mendagri menjadi klimaks emosional yang mengubah forum birokrasi menjadi ruang kontemplasi. Ia tidak hanya berbicara kepada para pejabat, tapi kepada manusia-manusia yang memegang nasib jutaan rakyat di pundaknya.

Seruan itu kini menggema sebagai panggilan nurani bangsa. Sebuah pengingat bahwa sejarah tidak mencatat siapa yang paling lama menjabat, tapi siapa yang paling berani membuat perubahan.(Herlan Kemala)

Reporter: admin