Batang Hari/Detektif Brantas.com – Lonjakan angka kriminalitas di Kabupaten Batang Hari sepanjang 2025 kembali menyoroti efektivitas pengawasan dan penegakan hukum, khususnya terhadap kejahatan yang berdampak langsung pada lingkungan dan sumber daya alam. Selasa -(30/12/25)
Data Polres Batang Hari dalam Rilis Akhir Tahun mencatat 494 perkara pidana selama 2025, meningkat 18,42 persen atau bertambah 91 kasus dibandingkan tahun 2024. Kenaikan ini menandai tren kriminalitas yang belum sepenuhnya terkendali, meskipun aparat mengklaim adanya peningkatan penyelesaian perkara.
Kapolres Batanghari AKBP Handoyo Yudhy Santosa menyebut, dari total kasus tersebut, 333 perkara atau 67,40 persen telah diselesaikan. Namun, tingginya angka laporan baru menimbulkan pertanyaan terkait faktor pencegahan dan pengawasan di tingkat lapangan.
“Secara kuantitas, penyelesaian perkara meningkat. Namun kami mengakui tantangan ke depan masih besar,” ujar Handoyo dalam rilis tersebut.
Sorotan utama tertuju pada tindak pidana khusus yang menyentuh sektor strategis daerah. Dari 10 perkara menonjol yang ditangani, enam diantaranya berkaitan dengan praktik illegal drilling. Fenomena ini dinilai tidak hanya merugikan negara, tetapi juga memperparah kerusakan lingkungan serta membuka celah konflik sosial di tengah masyarakat.
Selain illegal drilling, kepolisian juga menangani dua perkara korupsi, satu perkara perambahan hutan, serta satu perkara di bidang migas. Dominasi kejahatan berbasis sumber daya alam ini mengindikasikan lemahnya pengawasan lintas sektor serta perlunya keterlibatan serius instansi terkait.
Persoalan lingkungan kembali mencuat melalui penanganan kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Sepanjang 2025, baru satu perkara yang berhasil dituntaskan, sementara tiga perkara lainnya masih dalam tahap penyelidikan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan efek jera terhadap pelaku, terutama menjelang musim kemarau berikutnya.
Di sektor narkotika, tren peningkatan juga belum terbendung. Polres Batanghari mencatat 66 perkara narkoba, naik lima kasus dari tahun sebelumnya, dengan barang bukti 174,55 gram sabu dan 15,92 gram ganja. Fakta ini memperlihatkan bahwa jaringan peredaran narkoba masih aktif dan beroperasi di wilayah hukum Batang Hari.
Bidang lalu lintas tak luput dari catatan serius. Sepanjang 2025, terjadi 181 kecelakaan lalu lintas, meningkat 30 kasus dibandingkan tahun lalu. Angkutan batu bara kembali menjadi perhatian, dengan 17 insiden yang menelan empat korban jiwa. Persoalan ini kembali memantik sorotan terhadap lemahnya pengawasan terhadap kendaraan bertonase berat di jalan umum.
Kerugian materiil akibat kecelakaan lalu lintas diperkirakan mencapai Rp 54,5 juta. Di sisi lain, kepolisian mencatat telah menerbitkan 415 surat tilang sebagai bagian dari upaya penegakan hukum.
Rilis akhir tahun ini juga menjadi penutup masa jabatan AKBP Handoyo Yudhy Santosa sebagai Kapolres Batang Hari. Ia dijadwalkan mengemban tugas baru di Polda Kalimantan Selatan pada Januari 2026.
Menutup pemaparannya, Handoyo mengimbau masyarakat untuk merayakan malam pergantian tahun dengan tertib dan menghindari aktivitas berisiko. Namun, tantangan terbesar ke depan tetap terletak pada upaya menekan kejahatan struktural, khususnya yang berkaitan dengan eksploitasi sumber daya alam dan keselamatan publik. (Red)
















