Kemelak Bindung Langit, Baturaja Timur, OKU — Di sebuah lorong kecil di Kelurahan Kemelak Bindung Langit, Kecamatan Baturaja Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, seekor ayam Bangkok menjadi saksi bisu dari kisah yang menggugah nurani. Bukan sekadar unggas, ayam itu adalah simbol harga diri, kebanggaan, dan hasil jerih payah seorang warga.

Ketika ayam itu raib dari kandangnya, bukan hanya suara kokok yang hilang—tapi juga ketenangan hati pemiliknya. Kecurigaan pun mengarah pada seorang pemuda setempat. Suasana mulai memanas, emosi menggelegak, dan potensi konflik terbuka pun mengintai.

Namun sebelum bara itu menjalar menjadi api, hadir sosok penyejuk: Aipda M. Yusuf, Bhabinkamtibmas Kelurahan Kemelak Bindung Langit. Dengan pendekatan persuasif dan penuh empati, ia menginisiasi mediasi yang mempertemukan kedua belah pihak di rumah Ketua RT setempat.

Dalam suasana yang penuh haru, pelaku mengakui perbuatannya. Ia menunduk, meminta maaf dengan tulus. Korban, dengan jiwa besar, memilih untuk memaafkan. Tak ada laporan polisi. Tak ada jeruji besi. Yang ada hanyalah pelajaran hidup yang tak ternilai: bahwa damai lebih mulia daripada dendam.

“Kami hadir bukan hanya untuk menjaga keamanan, tapi juga untuk merawat kedamaian,” ujar Aipda Yusuf, yang kini dipuji warga sebagai penjaga harmoni di Kemelak Bindung Langit.

Ini bukan sekadar kisah tentang ayam yang hilang. Ini adalah cermin dari kearifan lokal, kekuatan silaturahmi, dan peran penting aparat yang mengedepankan hati nurani.

Di tengah dunia yang kian gaduh, Kemelak Bindung Langit membuktikan bahwa damai bisa lahir dari ruang tamu sederhana, dari tangan yang saling menjabat, dan dari hati yang mau memaafkan.(Herlan Gondrong)

Reporter: admin